Drainage Cell Ringan untuk Taman diatas
Atap Beli Geotextile Terlaris Brebes 2017 2018 2019 2020
Beli Geotextile Terlaris Brebes 2017 2018 2019 2020
Drainase
yang baik dan penggunaan material yang ringan adalah dua dari beberapa faktor
yang perlu dipertimbangkan saat membangun taman atap. Material geokomposit yang
terbuat dari bahan HDPE adalah solusinya. Salah satu material yang digunakan
pada struktur media tanam taman atap berteknologi konvensional adalah batu
kali. Material yang dipasang sartu paket dengan ijuk ini, diletakkan di atas
plat beton, setelah membrane waterproofing. Fungsinya adalah membentuk rongga-rongga
pada lapisan media tanam, sehingga air dari permukaan media dapat mengalir ke
bawah. Sedangkan ijuk yang diletakkan di atas lapisan batu kali, berfungsi
sebagai filter, yaitu mengalirkan air ke bawah tetapi menahan butiran media
tanam agar tidak menyumbat lubang pembuangan.
Akan
tetapi penggunaan batu kali setebal 20 cm tersebut membuat beban pelat beton
menjadi lebih berat. Karenanya, pada taman atap modern atau sering disebut roof
garden ekstensif , material batu kali dan ijuk tidak digunakan lagi.
Penggantinya adalah material drainage cell. Material dari bahan plastik ini
biasanya dijual satu paket dengan lapisan “kain kelambu”, yang disebut
geotextile, berfungsi sebagai filter menggantikan ijuk.
Drainage
cell adalah salah satu produk yang dibuat dari material geokomposit.
Geokomposit sendiri terbuat dari bahan plastik jenis HDPE (high density
polyethylene), yang memiliki sifat elastis tetapi kuat. Selain sebagai drainage
cell, plastik HDPE banyak dipakai pada elemen lanskap lain, seperti paving
grass, pengganti grass block dari beton.
Sifat
HDPE yang elastis juga menjadikan drainage cell dapat dibuat dalam berbagai
bentuk, seperti lembaran maupun panel. Drainage cell berbentuk lembaran umumnya
memiliki ketebalan 1 cm dengan berat kurang dari 1 kg/m2. Sedangkan yang
berbentui panel (50 cm x 50 cm) memiliki tebal 3 cm dengan berat 2,5 – 3 kg/m2.
Bandingkan jika menggunakan batu kali setebal 15-20 cm, akan menambah beban
pada pelat beton 100-150 kg per m2.
Pada
umumnya drainage cell setebal 1 cm digunakan pada tanaman berakar dangkal,
misalnya tanaman groundcover. Sedangkan ketebalan 3 cm dipakai untuk tanaman
berakar dalam, seperti tanaman berkayu.
Kelebihan
lain dari drainage cell adalah mudah dipasang. Drainage cell berbentuk
lembaran, cukup “digelar” di atas pelat beton, seperti menggelar karpet. Pada
bagian lubang pembuangan air, drainage cell dipotong seukuran diameter lubang
dan lubang diberik kawat untuk menahan lembaran geotextile. Pada
drainage cell berbentuk panel (50 cm x 50 cm), kita cukup menyusun panel-panel
sehingga menutup permukaan lantai. Menghubungkan panel drainage cell dengan panel lain, cukup
dilakukan dengan mengaitkan dan mengunci pengait yang telah tersedia pada
masing-masing panel.
Drainage
cell tidak hanya sekedar melewatkan air dari atas permukaan media tanam ke
bawah, tetapi ada juga yang dapat
menyimpan air. Air yang mengalir dari atas, sebagian besar ditampung pada
bagian dasar cell yang berbentuk seperti mangkuk. Drainage cell ini biasanya
digunakan pada taman atap, dimana tanamannya membutuhkan kelembaban pada sistim
perakarannya.
Meski
memiliki banyak kelebihan, pemakaian drainage cell sebagai subsistem taman atap
di Indonesia masih relatif jarang, Ini disebabkan material ini masih diimpor.
Sedangkan filter geotextile ada yang diimpor, ada juga yang produk lokal. Saat
ini, drainage cell plus geotextile-nya, dijual dengan harga Rp. 80 ribu sampai
Rp. 200 ribu per m2.
banjarnegara, banyumas, batang, blora, boyolali, brebes, cilacap, demak, gerobogan, jepara, karanganyar, kebumen, kendal, klaten, kudus , purwodadi, rembang, tuban, magelang, pati, pekalongan, pemalang, purbalingga, purworejo, rembang, semarang, sragen, sukoharjo, tegal , temanggung, wonogiri, wonosobo, magelang, pekalongan, salatiga, surakarta, tegal, sleman, wates, gunung kidul, purworejo, bantul



















0 komentar