Roof Garden didukung dengan Teknologi
Drainage Cell Alamat Geotextile Berkualitas Jakarta 2017 2018 2019 2020
Alamat Geotextile Berkualitas Jakarta 2017 2018 2019 2020
Pembuatan
taman diatas atap (roof garden) memang tidak murah dan membutuhkan struktur dan
konstruksi atap yang spesifik. Bahkan untuk hasil yang optimal, konstruksi atap
untuk taman didesain sejak awal, sebelum gedung itu dibangun. Namun investasi
ini bisa kembali dalam beberapa tahun kemudian, karena biaya untuk listrik
pendingin udara berkurang, serta nilai ekonomis bangunan bertambah. Atap
bertanaman harus direncanakan dan dibangun dengan mempertimbangkan beban mati,
beban hidup ( kegunaan ), beban angin, dan beban lainnya yang diperkirakan
harus disalurkan ke fondasi bangunan dalam tanah dengan baik tanpa
mengakibatkan pelendutan / deformasi yang resikonya dapat membahayakan
kestabilan setiap bagian dari bangunan.
Beban
mati yang meliputi berat dari kotak tanaman atau dinding pembatas taman
lainnya. Untuk bahan beton bertulang, berat lazimnya 24kN/m3. Berat ini
tentunya dapat bervariasi tergantung apakah beton dalam keadan basah ataupun
kering. Beban hidup terdiri atas berat kering dan berat basah dari media tanam
( tanah , pepohonan, air, dan juga orang. Beban hidup yang diperhitungkan (
untuk penggunaan atap datar yang dapat dipergunakan tidak hanya untuk
pemeliharaan taman ) adalah sekitar 1.5 kN/m3 denah.
Secara
alamiah, setiap pohon dan tanaman akan tumbuh dan bertambah berat seiring
dengan perkerbangannya. Hal ini juga harus turut diperhatikan dalam perhitungan
struktur sebagai beban tambahan yang akan terkumpul seiring dengan bertambahnya
usia bangunan.
Salah
satu material yang digunakan pada struktur media tanam taman atap berteknologi
konvensional adalah batu kali. Material yang dipasang sartu paket dengan ijuk
ini, diletakkan di atas plat beton, setelah membrane waterproofing. Fungsinya
adalah membentuk rongga-rongga pada lapisan media tanam, sehingga air dari
permukaan media dapat mengalir ke bawah. Sedangkan ijuk yang diletakkan di atas
lapisan batu kali, berfungsi sebagai filter, yaitu mengalirkan air ke bawah
tetapi menahan butiran media tanam agar tidak menyumbat lubang pembuangan.
Akan
tetapi penggunaan batu kali setebal 20 cm tersebut membuat beban pelat beton
menjadi lebih berat. Karenanya, pada taman atap modern atau sering disebut roof
garden ekstensif , material batu kali dan ijuk tidak digunakan lagi.
Penggantinya adalah material drainage cell. Material dari bahan plastik ini
biasanya dijual satu paket dengan lapisan “kain kelambu”, yang disebut
geotextile, berfungsi sebagai filter menggantikan ijuk.
Drainage
cell adalah salah satu produk yang dibuat dari material geokomposit.
Geokomposit sendiri terbuat dari bahan plastik jenis HDPE (high density
polyethylene), yang memiliki sifat elastis tetapi kuat. Drainage cell berbentuk
lembaran umumnya memiliki ketebalan 1 cm dengan berat kurang dari 1 kg/m2.
Pada
umumnya drainage cell setebal 1 cm digunakan pada tanaman berakar dangkal,
misalnya tanaman groundcover. Sedangkan ketebalan 3 cm dipakai untuk tanaman
berakar dalam, seperti tanaman berkayu. Kelebihan lain dari drainage cell
adalah mudah dipasang. Drainage cell berbentuk lembaran, cukup “digelar” di
atas pelat beton, seperti menggelar karpet. Pada bagian lubang pembuangan air,
drainage cell dipotong seukuran diameter lubang dan lubang diberik kawat untuk
menahan lembaran geotextile.
Drainage
cell tidak hanya sekedar melewatkan air dari atas permukaan media tanam ke
bawah, tetapi ada juga yang dapat
menyimpan air. Air yang mengalir dari atas, sebagian besar ditampung pada
bagian dasar cell yang berbentuk seperti mangkuk. Drainage cell ini biasanya
digunakan pada taman atap, dimana tanamannya membutuhkan kelembaban pada sistim
perakarannya.
banjarnegara, banyumas, batang, blora, boyolali, brebes, cilacap, demak, gerobogan, jepara, karanganyar, kebumen, kendal, klaten, kudus , purwodadi, rembang, tuban, magelang, pati, pekalongan, pemalang, purbalingga, purworejo, rembang, semarang, sragen, sukoharjo, tegal , temanggung, wonogiri, wonosobo, magelang, pekalongan, salatiga, surakarta, tegal, sleman, wates, gunung kidul, purworejo, bantul



















0 komentar